Andai aku mati malam ini
Kalau Keyakinan itu sudah tertanam di dalam hati, maka apa pun yang datang akan terasa ringan. Andai mati malam ini, tak bolehlah kita marah, jika ditakdirkan besok hidup, maka bersyukurlah atas tambahan waktu mencari pahala.
Andai dimatikan malam ini, tetaplah berbahagia, karena dengan itu berhentilah perbuatan-perbuatan maksiat karena Allah. Husnudzonlah kepada-Nya dan senantiasa merasa bahwa ini datang dari Allah. Ketika musibah datang, maka diingatkan kita, bahwa semua hal kepunyaan milik Allah, bahkan diri ini milik Allah maka apa yang disedihkan, dimarahkan, dirisaukan, kalau keyakinan kita kuat, hilanglah risau, marah, dan susah maka kuatkan keyakinan dengan ibadah-ibadah.
Buah dari keyakinan yang kuat adalah datangnya kebahagiaan. Hati itu satu, didalamnya ada marah, susah, risau, gundah, maka ketika Iman dan keyakinan datang, senantiasa setan tidak dapat masuk ke dalam hati yang diterangi cahaya Allah.
Imam al-ghazali setelah 11 tahun berkhalwat (menyendiri), ketika ditanya orang lain mengenai "apa itu makrifat ?" beliau menjawab, "cahaya yang dipancarkan ke dalam hati seorang hamba". Hal itulah yang sering kita minta dalam tahajud, sehingga dengan cahaya itu datang ketenangan dalam hati, ucapkanlah "Ridho aku terhadap segala takdir keputusanmu ya Allah".
Susah datang tetap tersenyum, senang datang tak angkuh dan sombong, pujian tak membuat engkau melambung tinggi, hinaan tak membuat bermuram durja. Karena hinaan dan pujian tidak ada apa-apanya, pada orang yang sudah sampai pada tingkat mengenal Allah. Hal itu datang silih berganti dalam kehidupan, ketika ujian datang, ada doa orang sholih akan menguatkan kita, satu mulut memintakan doa, satu lagi memohonkan ampunan.
Doa itu tak pernah putus, walau jarak antara asia-afrika. Maka, selipkan satu doa dalam lautan doamu "matikan guru-guru kami ya Allah dalam keadaan khusnul khotimah". Mereka guru-guru kita yang berjuang membimbing umat ke jalan yang baik.
Kita tak takut mati, tapi mati jangan dicari. Jika datang harus siap kapanpun jua, puncak dari tauhid itu tidak ada yang sebenarnya cinta melainkan Allah subhanahuwata'ala. Jangan sedih karena yang dipunya akan hilang tapi bahagialah karena Allah apapun yang datang.
Tetaplah bahagia, yang diberi senang dapat pahala, yang susah lalu sabar balasannya lebih hebat, bisa tak dapat dihitung karena Allah memberikan kejutan, "aku berikan untuk hamba-hambaku yang soleh, hal yang tak pernah terlihat mata, tak pernah terdengar telinga dan tak pernah terlintas di hati manusia.
Orang yang bahagia adalah orang yang selalu bersama Allah, syaratnya ada tiga,: yang pertama kenali Allah dengan baik, ,kedua yakinkan dalam hati dan pupuk keyakinan dengan ibadah yang banyak, yang ketiga saling mendoakan sesama saudara maka akan didapatlah ketenangan, adapun yang belum berbuah hendaklah kita mati dalam keadaan Berserah diri kepada Allah.
Buah dari keyakinan yang kuat adalah datangnya kebahagiaan. Hati itu satu, didalamnya ada marah, susah, risau, gundah, maka ketika Iman dan keyakinan datang, senantiasa setan tidak dapat masuk ke dalam hati yang diterangi cahaya Allah.
Imam al-ghazali setelah 11 tahun berkhalwat (menyendiri), ketika ditanya orang lain mengenai "apa itu makrifat ?" beliau menjawab, "cahaya yang dipancarkan ke dalam hati seorang hamba". Hal itulah yang sering kita minta dalam tahajud, sehingga dengan cahaya itu datang ketenangan dalam hati, ucapkanlah "Ridho aku terhadap segala takdir keputusanmu ya Allah".
Susah datang tetap tersenyum, senang datang tak angkuh dan sombong, pujian tak membuat engkau melambung tinggi, hinaan tak membuat bermuram durja. Karena hinaan dan pujian tidak ada apa-apanya, pada orang yang sudah sampai pada tingkat mengenal Allah. Hal itu datang silih berganti dalam kehidupan, ketika ujian datang, ada doa orang sholih akan menguatkan kita, satu mulut memintakan doa, satu lagi memohonkan ampunan.
Doa itu tak pernah putus, walau jarak antara asia-afrika. Maka, selipkan satu doa dalam lautan doamu "matikan guru-guru kami ya Allah dalam keadaan khusnul khotimah". Mereka guru-guru kita yang berjuang membimbing umat ke jalan yang baik.
Kita tak takut mati, tapi mati jangan dicari. Jika datang harus siap kapanpun jua, puncak dari tauhid itu tidak ada yang sebenarnya cinta melainkan Allah subhanahuwata'ala. Jangan sedih karena yang dipunya akan hilang tapi bahagialah karena Allah apapun yang datang.
Tetaplah bahagia, yang diberi senang dapat pahala, yang susah lalu sabar balasannya lebih hebat, bisa tak dapat dihitung karena Allah memberikan kejutan, "aku berikan untuk hamba-hambaku yang soleh, hal yang tak pernah terlihat mata, tak pernah terdengar telinga dan tak pernah terlintas di hati manusia.
Orang yang bahagia adalah orang yang selalu bersama Allah, syaratnya ada tiga,: yang pertama kenali Allah dengan baik, ,kedua yakinkan dalam hati dan pupuk keyakinan dengan ibadah yang banyak, yang ketiga saling mendoakan sesama saudara maka akan didapatlah ketenangan, adapun yang belum berbuah hendaklah kita mati dalam keadaan Berserah diri kepada Allah.
Komentar
Posting Komentar