Hal yang menjadikan hari "perpisahan"
Fatimah az-zahra adalah seorang yang menjadi ruh bagi Syair Rasulullah. Dalam menanggung kepedihan yang menindih begitu berat di atas punggung jiwanya, terlantunlah bait-bait puisi darinya.
Di hari itu, terguncang seisi alam raya...
Padam sudah cahaya mentari di siang hari...
Seluruh peredaran waktu di masa awal dan akhir telah menghitam...
Setelah Baginda Muhammad Al Mustofa wafat meninggalkan dunia
Hancur menjadi pasir yang menumpuk karena kedahsyatan goncangan kepedihan yang melanda
Dan kini, biarlah seluruh penjuru kota di belahan Barat dan Timur menangis kepadanya
Biarlah seluruh penduduk kabilah mudar dan nyaman berduka nestapa
Namun apalah guna?
Karena Perpisahan denganmu, tergambarlah sosok dirimu dalam linangan air mata
Jerit sedih Fatimah hampir saja membuatnya lupa untuk menuturkan bagian bait dari puisinya
Sedemikian musibah mengguyur diriku,
Jika saja kepedihan ini ditumpahkan ke pada siang hari
Niscaya terangnya Mentari akan lenyap dalam kegelapan
Jiiwa Fatimah seakan-akan pecah seperti cermin yang terhempas, berkeping-keping dalam kepedihan. Fatimah adalah belahan jiwa ayahandanya yang kini telah hancur berkeping-keping.
Duhai sang Nabi terkasih, wahai sang al-musthofa yang senantiasa menjadi pembantu bagi setiap jiwa,
Ketahuilah, bagaikan hamparan tanah kering yang kehilangan hujanmu
Sungguh jiwa ini juga kehilangan dirimu !
Ketahuilah bahwa Alquran yang setiap ayatnya diwahyukan bagaikan satu kesatuan kitab
Kini telah terputus sudah bersama dengan kepergian Baginda!
Ah, jika saja kematian telah menjemputku jauh sebelum menjemput diri Baginda
Kematian yang membuat semua wajah menjadi sayu anak-anak tertinggal menjadi yatim...
Kematian yang menghempaskan semua rasa dan kenikmatan kehidupan dunia...
Jika saja gunung pasir mengguyur diri ini, menghalang-halangi
Sehingga tidak aku jumpai kepedihan keadaan yang menimpa diri ini
Duhai Ayahanda yang telah memenuhi panggilan yang mahakuasa!
Duhai Ayahanda yang makammu adalah surga Firdaus
Duhai ayahanda yang kepada Malaikat Jibril kami berikan berita wafatmu
Duhai Ayahanda kini undangan Tuhanmu telah sampai kepadamu!
Duhai Ayahanda yang mulia! Semoga surga firdaus adalah tempat berakhirmu!
Duhai Ayahanda yang mulia hanya kepada Jibril kami akan berbagi derita ini!
Sepenggal puisi dari putri yang amat dicintai Rosul dalam buku Fatimah az-Zahra (serial wanita penghuni surga) karya Sibel Erasan.
az-Zahra adalah mawar penghias kota, dicintai seluruh umat, putri terbaik yang dimana ketika rasulullah rindu akan wanginya syurga, ia dekap fatimah.
Hari itu, ketika Ayahandanya memenuhi undangan Tuhan, ia layu, bunga itu layu kehilangan senyumnya, kala itu kesedihan ahlul bait berlangsung setiap hari. Tangisan dan bait bait puisi yang dibacakannya membuat seisi madinah lebur dalam kesedihan.
" Kini Fatimah az-Zahra telah menjadi puisi..
Menjadi suara. Menjadi nafas. Mengaduh
Sepeninggal ayahandanya...
Komentar
Posting Komentar