KAMPUNG KAMANDORAN
Kabupaten Sukabumi
Begitulah kira-kira yang kakek ceritakan padaku, saat matahari mulai tampak sedikit demi sedikit setelah ba'da subuh. Cerita bagaimana ketika kakek kecil mengalami masa-masa perjuangan.
Aku icha umurku lima tahun, kebiasaanku sering bermain ke rumah "aki" (kakek:sunda) tapi aku memanggil beliau dengan sebutan Bapak. Setiap ba'da subuh atau ashar kami sering mengobrol mengenai berbagai hal, dan lebih banyak mendengarkan cerita aki yang pernah mengalami pendudukan belanda dan jepang dikampung kami.
Pada zaman belanda datang ke kampung kami, masyarakat menyambut hangat. mayoritas waktu itu warga adalan petani, buruh, kuli, dan pedagang seperti biasa. Kampung kami dilingkupi banyak gunung, karena posisinya masih dibawah kaki gunung tapi pertengahan, tidak terlalu dingin. Disekelilingnya ada gunung gede, walat dan banyak bukit-bukit.
Warga kampung dan para pendatang bersosialisasi dalam lingkup masyarakat, mereka berdagang dan mulai banyak yang singgah dan tinggal sebagai mandor. Kakek bilang orang-orang belanda baik, dan dermawan. Banyak dari belanda menjadi orang punya dikampung dan mereka sering membantu warga yang susah dalam mencari pangan. Bahkan beberapa penduduk sering bekerja dengan mereka sebagai pengasuh dan ajudan mandor.
Seiring waktu berlalu, semua mandor belanda dan keluarganya ditarik kembali ke negaranya karena kekalahan mereka, teman kakek, neni dulu bekerja menjadi pengasuh salah seorang mandor belanda, ia begitu sedih ditinggal pergi keluarga belandanya, dan umur kakek sudah dewasa kala itu.
Tahun 1943 Jepang datang ke Indonesia menggantikan Belanda, tak luput juga kampung kami didatangi oleh para manusia kerdil tapi kasar dan keras kata kakek. Orang-orang jepang kerdil jaman itu, tidak tinggi seperti sekarang, tapi mereka sangat memeras sampai baju saja susah, makanan susah, serba susah.
waktu itu zaman kerja rodi, kampung kami juga jadi perlintasan pembangunan rel kereta api yang disusun jepang dengan mempekerjakan warga, mereka menjadi mandor proyek perlintasan rel, tapi tidak lama jepang datang namun efeknya lebih terasa dibanding pendudukan belanda. Mereka sering datang ke rumah-rumah menagih pajak hasil panen, kakek dan keluarga sering bersembunyi dibawah lubang yang dibuat dibalik kasur untuk berlindung dari senapan mereka.
Kalau ada warga desa yang melawan, maka biasanya tiba-tiba akan menghilang, atau ditembak dari jarak jauh oleh sniper ninja, sebutan ninja oleh masyarakat karena si penembak tidak tahu siapa dan tidak kelihatan. Bahkan kakek sendiri hampir kena tembak ketika berdiri diatas jembatan, tapi meleset atas ijin Allah.
Setelah rel selesai, dan jepang pergi dari daerah kami, menjadi kebiasaan orang luar memanggil daerah kami kamandoran yang artinya ke mandor-mandor (banyak). Karena banyak mandor yang dulu tinggal dikampung hingga jika ada yang menanyakan disebutlah kamandoran atau ke mandor sambil nunjuk ke kampung.
Wallahu'alam
Cerita rakyat tersebut sudah diubah oleh penulis, untuk mengikuti tantangan pekan ke 4 ODOP 7.
Asal muasal nama kamandoran.
BalasHapusbetul😄
Hapus