CHAPTER 8
Air hangat ini kembali mengalir, bukan tangisan, bukan kelopak yang menjatuhkannya, "apa ini? aku terbangun dalam keheningan malam, ada handuk di atas kepala dan Bibi disampingku. ketika melihat sekeliling, "kemana ibu?" tanyaku.
Bibi hanya mengulas senyuman wajah, "nona jangan khawatir, Istirahatlah dengan baik, demam Nona agak menurun sekarang, jangan terlalu banyak berpikir" ucap Bibi.
"Sedih sekali tak kutemukan sosokmu ibu, aku hanya terdiam melihat bunga dalam vas itu telah layu sedikit demi sedikit, teriak batinku Yang Pilu mengalirkan air mata. Kenapa Ibu tak pernah datang? Ibu kembalilah aku merindukanmu.
Bibi hanya mengulas senyuman wajah, "nona jangan khawatir, Istirahatlah dengan baik, demam Nona agak menurun sekarang, jangan terlalu banyak berpikir" ucap Bibi.
"Sedih sekali tak kutemukan sosokmu ibu, aku hanya terdiam melihat bunga dalam vas itu telah layu sedikit demi sedikit, teriak batinku Yang Pilu mengalirkan air mata. Kenapa Ibu tak pernah datang? Ibu kembalilah aku merindukanmu.
Kesunyian lain masih menyelimuti Cloud yang sudah terdiam cukup lama, kali ini ia sedang berjuang keras, melawan kesedihan yang menerpanya agar tak terlihat oleh Rey.
"Hari itu dia ukir banyak gambar, kau sudah melihatnya beberapa rey, dalam pagar itu. Cloud mulai tersendat bicara, sesekali ia berbalik menyeka air mata yang keluar tak terbendung, dihembuskannya nafas dengan berat, lanjutnya, "ia bekerja tanpa henti Rey, walau terik dan hujan mengguyur, ukiran gambar itu tidak berhenti. Baginya mereka bukan sekedar ukiran, tapi pesan yang harus disampaikan. Cloud mulai bisa mengendalikan emosinya.
"Pesan seperti apa maksudmu? tanya Ku tak habis pikir.
"Entahlah, kurasa itu sebuah kekecewaan Ayah yang ditinggal ibu atau Itulah masalah yang Ayah ingin ceritakan padaku, agar aku dapat memahaminya sendiri" kata Cloud.
"Tapi, kenapa Ayah mu harus pergi setelah melakukan semua itu? aku mulai semakin tidak mengerti Cloud, sesaat Hening kami berpikir, melayang dengan kebingungan.
Cerbung, go to next season 9
"Hari itu dia ukir banyak gambar, kau sudah melihatnya beberapa rey, dalam pagar itu. Cloud mulai tersendat bicara, sesekali ia berbalik menyeka air mata yang keluar tak terbendung, dihembuskannya nafas dengan berat, lanjutnya, "ia bekerja tanpa henti Rey, walau terik dan hujan mengguyur, ukiran gambar itu tidak berhenti. Baginya mereka bukan sekedar ukiran, tapi pesan yang harus disampaikan. Cloud mulai bisa mengendalikan emosinya.
"Pesan seperti apa maksudmu? tanya Ku tak habis pikir.
"Entahlah, kurasa itu sebuah kekecewaan Ayah yang ditinggal ibu atau Itulah masalah yang Ayah ingin ceritakan padaku, agar aku dapat memahaminya sendiri" kata Cloud.
"Tapi, kenapa Ayah mu harus pergi setelah melakukan semua itu? aku mulai semakin tidak mengerti Cloud, sesaat Hening kami berpikir, melayang dengan kebingungan.
Cerbung, go to next season 9
Komentar
Posting Komentar