CHAPTER 5
Sosok Ayah, Ibu masih belum siap menghadirkan nya di kehidupan kami. Sampai saat ini, aku tak berani lagi menanyakannya, nampak jelas pilu yang Ibu simpan sejak lama, walau hatiku menanyakan kejelasannya tapi sekarang hanya ada Fatamorgana, aku melupakannya.
"Aneh sekali, sudah lama si suara indah tak terdengar kabar, Entah berapa bulan ini aku selalu melihat ventilasi, tapi tak ketemukan sosoknya, hanya terdengar suara derap Kaki. Kemanakah dia? hujan rintik datanglah, aku ingin melihatnya, bawalah hatinya merindu.
Lelaki tampan itu masih sama, dalam perjalanan dengan putih bajunya, hitam celananya dan bulat topinya. Ia hanya menggendong tas, badannya tegap dan gagah dengan wajah putih sedap dipandang.
Sudah 3 bulan dia datang ke kota kecil ini, orang baru nampaknya, banyak gadis yang melihatnya terpesona. Tapi belum ada yang tahu siapa dia dan dari mana, sepertinya ia perantau yang kebetulan singgah atau ada sesuatu yang ia ingin temukan, Entahlah...
"Rei..." dari jauh seorang anak remaja berteriak, saat melihat pemuda itu sedang mengambil tasnya hendak pergi. Seketika ia menoleh, melirik kearah suara dan tersenyum. Lesung pipit nampak terukir di kedua pipinya, kulit putih bersih itu membuat siapa saja tak ingin lepas melihatnya, wajah yang tak membosankan.
Anak remaja itu mendekatinya, "Rey Sejak kapan kamu disini? aku merindukanmu kawan" dipeluknya pemuda itu yang hanya tersenyum simpul.
"Apa kabar Cloud?" sapanya. Remaja itu menggandeng pundaknya, sambil berkata, "aku tak akan membiarkanmu pergi lagi, tinggalah disini beberpa lama lagi, rumahku sepi Setelah kepergianmu 10 tahun lalu".
Dia Muhammad Reihan, campuran Jerman Indonesia, dilahirkan di Jerman sejak masih balita. Orangtuanya membawa nya pindah dan besar di tempat ini, sampai usianya 10 tahun. Setelah itu, Ayahnya meninggal dan ibunya pun pindah ke Indonesia tempat besar ibunya, hingga ia kembali kemari, ketempat ini, kota tak bernama yang kalian tahu dalam mimpi sebagai fantasi. Kota yang hilang dalam peta dunia tak bernama dan rahasia.
go to the next chapter 6...
Komentar
Posting Komentar