Langsung ke konten utama

season 6

CHAPTER 6

Muhammad Reihan, seindah namanya begitupun paras dan akhlaknya. Pembawaannya yang tenang, membuatnya dirindukan. Rey Itulah nama kecilnya, panggilan Sahabat Kecil Rey dulu yang begitu akrab, sampai persahabatan mereka tetap terjalin begitu lama. Walau tak terpungkiri, persahabatan yang terjalin antara mereka, lintas negara Bahkan tak hanya itu, tapi menembus dimensi ruang dan waktu. 

"Masuklah Rey! bagaimana? masih sama seperti dulu kan" Cloud tersenyum bangga. 

Rumah klasik khas keluarga Cloud, dengan pagar tinggi bermotif ukiran-ukiran indah di setiap helaian besi emas, ada yang berbentuk Bidadari bersayap cantik dan anggun dengan gaun hijau keemasan, terdapat banyak ukiran bulu-bulu kepakan sayap berguguran, ada pula motif bunga yang Aku pun tak tahu apa namanya, putih mekar dengan kelopak yang tak pernah kulihat dimiliki oleh bunga manapun.

Ada gambar seseorang yang kulihat menanti dekat bunga itu entah siapa, ukiran-ukiran itu punya banyak makna, tak ada yang tahu bahkan cloud sendiri. 

"Banyak ukiran baru dirumah ini cloud, banyak yang berubah" kata Reihan. 

Rumah ini tak bisa dibilang kecil, banyak Pilar di depan sebagai penyangga, bunga-bunga hias dan kesan rumah yang simpel tapi klasik. Bak istana yang sepi, ruangan tak berpenghuni. 

Setelah berkeliling, kami menyantap makanan yang telah tersaji di meja ruang tamu. Ada sebuah bola kristal di tengah meja, hiasan biru laut, ada patung seorang ayah memeluk anaknya didalam sana, ditemani bintang dan bulan di pinggir pantai. 

"Makanlah rey, apa masih ada yang kau inginkan selain ini? Bicara lah kawan" ucap Cloud lembut.  

"Sangat cukup sekali. oh ya, ke mana orang rumah? ayah dan ibumu? tanya Rey.

Seketika raut wajah cloud berubah sedih, Ia sejenak diam membisu. "Maaf Rey, Semua banyak berubah sekarang, Ayah dan Bunda pergi" ucapnya bersedih. Aku masih menunggu kelanjutan perkataan Cloud sambil memegang pundaknya, bagaikan seorang kakak mengobati luka adiknya. "Aku mengerti, Bersabarlah, kita bersama sekarang" Rey menguatkannya.

Hari yang sama di kota ini, masih terdengar melodi hujan mengalir, entah sudah berapa lama aku menemani Cloud. Dari jendela kaca rumah ini, banyak yang bisa kulihat, orang yang menanti bunga dalam ukiran pagar, apa pula maksud yang tersembunyi disana, terpancar kesedihan dalam setiap lukisan itu, penantian sepertinya, tapi apa yang dinanti, akankah sebuah harapan, keajaiban, atau sebuah jalan pulang yang menentramkan hati. 

Perhatianku teralihkan melihat cloud sudah sangat rapi sekali memakai kemeja merah dan biru, celana hitam panjang, rambutnya pun tertata sangat rapi. 

"Rey, Aku ada kesempatan bagus hari ini, cepatlah ganti bajumu kita akan pergi" ucapnya gembira. 

"tapi kemana?" Tanyaku, "Kau pasti nanti akan tahu, Ayolah!" cloud menariku bangkit.

Cerbung, next to season 7

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Season 8

CHAPTER 8 Air hangat ini kembali mengalir, bukan tangisan, bukan kelopak yang menjatuhkannya, "apa ini? aku terbangun dalam keheningan malam, ada handuk di atas kepala dan Bibi disampingku. ketika melihat sekeliling, "kemana ibu?" tanyaku. Bibi hanya mengulas senyuman wajah, "nona jangan khawatir, Istirahatlah dengan baik, demam Nona agak menurun sekarang, jangan terlalu banyak berpikir" ucap Bibi. "Sedih sekali tak kutemukan sosokmu ibu, aku hanya terdiam melihat bunga dalam vas itu telah layu sedikit demi sedikit, teriak batinku Yang Pilu mengalirkan air mata. Kenapa Ibu tak pernah datang? Ibu kembalilah aku merindukanmu. Kesunyian lain masih menyelimuti Cloud  yang sudah terdiam cukup lama, kali ini ia sedang berjuang keras, melawan kesedihan yang menerpanya agar tak terlihat oleh Rey. "Hari itu dia ukir banyak gambar, kau sudah melihatnya beberapa rey, dalam pagar itu. Cloud mulai tersendat bicara, sesekali ia berbalik menyeka air mat...

Hasbunallahu wa ni'mal wakil..

Hakikat dzikir hasbunallah wanikmal wakil nikmal Maula wanikman Nasir  Jika kita mengamalkan zikir ini, kegundahan hati yang tengah kita rasakan akan segera hilang. Jika dilaksanakan dengan Istiqomah penuh kesungguhan, setelah selesai salat fardhu usahakan membacanya minimal 100 kali. Jika kamu rajin salat malam, bacalah zikir tersebut disertai doa memohon pertolongan kepada Allah agar kegundahan hati bisa hilang secepatnya. Bacaan Ini mengandung arti "cukuplah Allah pelindung kami, dia sebaik-baik wakil yang kami dambakan Dan dia sebaik-baik penolong yang kami harapkan". Memiliki manfaat yang sangat dahsyat, tidak saja ketentraman hati serta luasnya Rizki tetapi juga bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta tawakal kita kepada Allah maka kita akan dianugerahi kesanggupan mengamati dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah Ketika konsisten membacanya, kualitas keimanan dan ketakwaan kita akan terus mengalami peningkatan. Tidak hanya percaya dalam lisan ...

Fatimah az-Zahra

Hal yang menjadikan hari "perpisahan"  Fatimah az-zahra adalah seorang yang menjadi ruh bagi Syair Rasulullah. Dalam menanggung kepedihan yang menindih begitu berat di atas punggung jiwanya, terlantunlah bait-bait puisi darinya. Di hari itu, terguncang seisi alam raya... Padam sudah cahaya mentari di siang hari... Seluruh peredaran waktu di masa awal dan akhir telah menghitam... Setelah Baginda Muhammad Al Mustofa wafat meninggalkan dunia  Hancur menjadi pasir yang menumpuk karena kedahsyatan goncangan kepedihan yang melanda Dan kini, biarlah seluruh penjuru kota di belahan Barat dan Timur menangis kepadanya  Biarlah seluruh penduduk kabilah mudar dan nyaman berduka nestapa  Namun apalah guna? Karena Perpisahan denganmu, tergambarlah sosok dirimu dalam linangan air mata Jerit sedih Fatimah hampir saja membuatnya lupa untuk menuturkan bagian bait dari puisinya Sedemikian musibah mengguyur diriku, Jika saja kepedihan...