CHAPTER 4
Sore ini Ibu yang mengantar makanan untukku, Ia hanya tersenyum ramah menyapaku tanpa banyak bicara, biasanya Bibi yang melakukan pekerjaan ini, tapi aneh sekali sikap ibu, hingga ia duduk di depan cermin agak lama.
Beberapa waktu, Ibu hanya datang sebentar, Kemudian beliau pergi lagi. Oh iya, sekarang aku sudah tahu bau bunga seperti apa, setiap pagi Bibi mengganti beberapa bunga di vas dekat meja. Mereka berwarna ungu, merah, dan putih. Bunga bernama Mawar, tulip dan anggrek.
Menyenangkan sekali Ibu masih disini duduk terpaku, aku menghampirinya dan mendekapnya lembut, kemudian aku tidur di pangkuannya sambil berujar,
"ibu, senang sekali rasanya ibu tinggal lama di sini, aku punya banyak pertanyaan yang ingin kuceritakan. Tolong jangan segera pergi lagi, aku kesepian sendirian".
"Bukankah ibu selalu bersamamu Cyle, tangan ini takkan jauh darimu. Ibu mengelus kepalaku.
"Bu maafkan aku, jangan marah" ucapku tersendat, tanpa ekspresi "selama ini, aku merindukan seseorang. Bagaimanakah sosok Ayah Bu? Seperti apa dia? tampan dan gagahkah? Kenapa ia tak pernah menemui kita, Apakah ia membenciku? menyayangiku? aku.. ingin tahu" Cyle tertunduk sayu. Tak ada suara, Lamat-lamat kurasakan air hangat menetes dan mengalir.
Hening sekali, Ibu Diam seribu bahasa. Tak berani aku menatap wajahnya, air hangat ini jatuh dan mengalir diantara pipiku, "dari mana asalnya? kenapa ?" pikirku. Baru kali ini aku melihat ibu menangis, inilah air mata," Kenapa mata mengeluarkannya Ibu?" ucapku. Kusentuh wajahnya, lalu ku usap air yang mengalir di pipinya. Ibu menangis, "bagaimana bisa? Ada apa bu? apa mengalirnya membuatmu bahagia?" aku hanya terheran menatap wajah pilu Ibu, beliau masih diam melihat dirinya di cermin.
"Cyle" panggilnya, "ibu ini, masih pantaskah menangis dengan wajah keriput dan usia lanjut, apa menurutmu Ibu tetap harus seperti ini?".
"Tidak ibu," balasku, "ibu tidak boleh seperti ini, ibu selalu pantas melakukan apapun. Ibu orang terhebat, Jika menangis menyembuhkan kesedihanmu, Biarlah ku tampung air mata yang mengalir dari dua kelopak itu", aku mendekap erat tubuh ibu menguatkannya " Tersenyumlah ibu".
cerbung, next to season 5.
Komentar
Posting Komentar