Langsung ke konten utama

season 2

CHAPTER 2

"Pagi ini cuaca dingin, sebaiknya Nona memakai mantel" ucap bibi. Dia selalu seperti itu, wajahnya datar tanpa ekspresi, tak banyak yang ia utarakan, hanya seperlunya, datang dan pergi dengan cepat tapi ia sangat rajin dan telaten. 

    Pagi tadi bibi sudah menyalakan perapian, menyiapkan sarapan, mengatur baju yang harus kupakai dan memilihkan aksesoris untukku.  Ruangan ini pun sudah rapi dan bersih, tapi serapih dan secantik apapun tetap dingin dan gelap, hanya secarik sinar mentari di atas ventilasi itulah yang membuatku dapat nyaman di sini.

       Aku hanya terdiam di atas kasur busa, semua tirai kasur sudah dibuka, aku hanya memperhatikan semua pekerjaan bibi yang telah dikerjakan dengan rapi. Bibi masih menemaniku berpakaian, dari kejauhan terdengar langkah kaki mendekat, Bibi segera merapikan pakaiannya dan bersiap membuka pintu. 

     Aku tahu siapa itu, senang sekali dia datang. Suara itu berhenti, Bibi membuka pintu. Dari cermin kulihat seorang wanita paruh baya berdiri di pintu, ia tersenyum ramah menyapaku. Dialah ibu yang sangat kusayangi, "ibu" lembut sapaku, Beliau menatapku dan mendekat padaku dengan tersenyum. Saat aku sedang duduk di depan cermin, ia mengelus kepalaku dan mengambil sisir di tanganku dengan cekatan disisiri Rambutku yang panjang.

" Apa kabar sayang? " ucapnya. 
" Aku baik bu" balasku .
"Kamu sudah besar sekarang, rambutmu semakin panjang Cyle" katanya lembut.

      Bibi hanya diam dan menunduk tanda hormat, ia tak berani banyak bicara di hadapan ibu, Bahkan tak pernah sepertinya. Bibi bekerja jika ada perintah, ibu kurang nyaman diperhatikan, seperti mengerti Bibi pun keluar dari ruangan. 

    Sekarang tinggal aku dan ibu, beliau masih menyisiri rambutku, mengolesi pewarna bibir, memakaikan bedak dan merapikan baju yang kupakai. Aku sangat bahagia ibu memperlakukan aku dengan sayang." Bu " kataku,  ia kemudian berhenti sesaat lalu menatapku sebentar. "Hari ini aku sudah membaca buku tentang bunga, kupu-kupu dan lebah. Mereka sungguh mengagumkan, dan aku tahu, bunga itu indah dan harum baunya.

    "Bu, Bolehkah aku mendapatkannya?" Ibu mulai melanjutkan menyisiri rambutku lagi, ia kemudian berkata "boleh, tentu boleh untukmu cyle, Ibu janji kau akan mendapatkannya". Setelah itu, Ibu meninggalkanku dan menutup pintu. Seiring langkahnya, dari kejauhan aku terdiam.

cerbung, next to season 3.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Season 8

CHAPTER 8 Air hangat ini kembali mengalir, bukan tangisan, bukan kelopak yang menjatuhkannya, "apa ini? aku terbangun dalam keheningan malam, ada handuk di atas kepala dan Bibi disampingku. ketika melihat sekeliling, "kemana ibu?" tanyaku. Bibi hanya mengulas senyuman wajah, "nona jangan khawatir, Istirahatlah dengan baik, demam Nona agak menurun sekarang, jangan terlalu banyak berpikir" ucap Bibi. "Sedih sekali tak kutemukan sosokmu ibu, aku hanya terdiam melihat bunga dalam vas itu telah layu sedikit demi sedikit, teriak batinku Yang Pilu mengalirkan air mata. Kenapa Ibu tak pernah datang? Ibu kembalilah aku merindukanmu. Kesunyian lain masih menyelimuti Cloud  yang sudah terdiam cukup lama, kali ini ia sedang berjuang keras, melawan kesedihan yang menerpanya agar tak terlihat oleh Rey. "Hari itu dia ukir banyak gambar, kau sudah melihatnya beberapa rey, dalam pagar itu. Cloud mulai tersendat bicara, sesekali ia berbalik menyeka air mat...

Hasbunallahu wa ni'mal wakil..

Hakikat dzikir hasbunallah wanikmal wakil nikmal Maula wanikman Nasir  Jika kita mengamalkan zikir ini, kegundahan hati yang tengah kita rasakan akan segera hilang. Jika dilaksanakan dengan Istiqomah penuh kesungguhan, setelah selesai salat fardhu usahakan membacanya minimal 100 kali. Jika kamu rajin salat malam, bacalah zikir tersebut disertai doa memohon pertolongan kepada Allah agar kegundahan hati bisa hilang secepatnya. Bacaan Ini mengandung arti "cukuplah Allah pelindung kami, dia sebaik-baik wakil yang kami dambakan Dan dia sebaik-baik penolong yang kami harapkan". Memiliki manfaat yang sangat dahsyat, tidak saja ketentraman hati serta luasnya Rizki tetapi juga bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta tawakal kita kepada Allah maka kita akan dianugerahi kesanggupan mengamati dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah Ketika konsisten membacanya, kualitas keimanan dan ketakwaan kita akan terus mengalami peningkatan. Tidak hanya percaya dalam lisan ...

Fatimah az-Zahra

Hal yang menjadikan hari "perpisahan"  Fatimah az-zahra adalah seorang yang menjadi ruh bagi Syair Rasulullah. Dalam menanggung kepedihan yang menindih begitu berat di atas punggung jiwanya, terlantunlah bait-bait puisi darinya. Di hari itu, terguncang seisi alam raya... Padam sudah cahaya mentari di siang hari... Seluruh peredaran waktu di masa awal dan akhir telah menghitam... Setelah Baginda Muhammad Al Mustofa wafat meninggalkan dunia  Hancur menjadi pasir yang menumpuk karena kedahsyatan goncangan kepedihan yang melanda Dan kini, biarlah seluruh penjuru kota di belahan Barat dan Timur menangis kepadanya  Biarlah seluruh penduduk kabilah mudar dan nyaman berduka nestapa  Namun apalah guna? Karena Perpisahan denganmu, tergambarlah sosok dirimu dalam linangan air mata Jerit sedih Fatimah hampir saja membuatnya lupa untuk menuturkan bagian bait dari puisinya Sedemikian musibah mengguyur diriku, Jika saja kepedihan...