Langsung ke konten utama

Cerita Rakyat Daerah

KAMPUNG KAMANDORAN
Kabupaten Sukabumi


Pada tahun 1945 Indonesia berhasil memploklamirkan kemerdekaan bangsa indonesia dengan penuh perjuangan juga rintangan. Semangat kemerdekaan disebar luaskan oleh para tokoh pahlawan nasional sampai ke berbagai negara hingga indonesia akhirnya diakui dunia.

Begitulah kira-kira yang kakek ceritakan padaku, saat matahari mulai tampak sedikit demi sedikit setelah ba'da subuh. Cerita bagaimana ketika kakek kecil mengalami masa-masa perjuangan.

Aku icha umurku lima tahun, kebiasaanku sering bermain ke rumah "aki" (kakek:sunda) tapi aku memanggil beliau dengan sebutan Bapak. Setiap ba'da subuh atau ashar kami sering mengobrol mengenai berbagai hal, dan lebih banyak mendengarkan cerita aki yang pernah mengalami pendudukan belanda dan jepang dikampung kami.

Pada zaman belanda datang ke kampung kami, masyarakat menyambut hangat. mayoritas waktu itu warga adalan petani, buruh, kuli, dan pedagang seperti biasa. Kampung kami dilingkupi banyak gunung, karena posisinya masih dibawah kaki gunung tapi pertengahan, tidak terlalu dingin. Disekelilingnya ada gunung gede, walat  dan banyak bukit-bukit.

Warga kampung dan para pendatang bersosialisasi dalam lingkup masyarakat, mereka berdagang dan mulai banyak yang singgah dan tinggal sebagai mandor. Kakek bilang orang-orang belanda baik, dan dermawan. Banyak dari belanda menjadi orang punya dikampung dan mereka sering membantu warga yang susah dalam mencari pangan. Bahkan beberapa penduduk sering bekerja dengan mereka sebagai pengasuh dan ajudan mandor.

Seiring waktu berlalu, semua mandor belanda dan keluarganya ditarik kembali ke negaranya karena kekalahan mereka, teman kakek, neni dulu bekerja menjadi pengasuh salah seorang mandor belanda, ia begitu sedih ditinggal pergi keluarga belandanya, dan umur kakek sudah dewasa kala itu.

Tahun 1943 Jepang datang ke Indonesia menggantikan Belanda, tak luput juga kampung kami didatangi oleh para manusia kerdil tapi kasar dan keras kata kakek. Orang-orang jepang kerdil jaman itu, tidak tinggi seperti sekarang, tapi mereka sangat memeras sampai baju saja susah, makanan susah, serba susah.

waktu itu zaman kerja rodi, kampung kami juga jadi perlintasan pembangunan rel kereta api yang disusun jepang dengan mempekerjakan warga, mereka menjadi mandor proyek perlintasan rel, tapi tidak lama jepang datang namun efeknya lebih terasa dibanding pendudukan belanda. Mereka sering datang ke rumah-rumah menagih pajak hasil panen, kakek dan keluarga sering bersembunyi dibawah lubang yang dibuat dibalik kasur untuk berlindung dari senapan mereka.

Kalau ada warga desa yang melawan, maka  biasanya tiba-tiba akan menghilang, atau ditembak dari jarak jauh oleh sniper ninja, sebutan ninja oleh masyarakat karena si penembak tidak tahu siapa dan tidak kelihatan. Bahkan kakek sendiri hampir kena tembak ketika berdiri diatas jembatan, tapi meleset atas ijin Allah.

Setelah rel selesai, dan jepang pergi dari daerah kami, menjadi kebiasaan orang luar memanggil daerah kami kamandoran yang artinya ke mandor-mandor (banyak). Karena banyak mandor yang dulu tinggal dikampung hingga jika ada yang menanyakan disebutlah kamandoran atau ke mandor sambil nunjuk ke kampung.

Wallahu'alam

Cerita rakyat tersebut sudah diubah oleh penulis, untuk mengikuti tantangan pekan ke 4 ODOP 7.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Season 8

CHAPTER 8 Air hangat ini kembali mengalir, bukan tangisan, bukan kelopak yang menjatuhkannya, "apa ini? aku terbangun dalam keheningan malam, ada handuk di atas kepala dan Bibi disampingku. ketika melihat sekeliling, "kemana ibu?" tanyaku. Bibi hanya mengulas senyuman wajah, "nona jangan khawatir, Istirahatlah dengan baik, demam Nona agak menurun sekarang, jangan terlalu banyak berpikir" ucap Bibi. "Sedih sekali tak kutemukan sosokmu ibu, aku hanya terdiam melihat bunga dalam vas itu telah layu sedikit demi sedikit, teriak batinku Yang Pilu mengalirkan air mata. Kenapa Ibu tak pernah datang? Ibu kembalilah aku merindukanmu. Kesunyian lain masih menyelimuti Cloud  yang sudah terdiam cukup lama, kali ini ia sedang berjuang keras, melawan kesedihan yang menerpanya agar tak terlihat oleh Rey. "Hari itu dia ukir banyak gambar, kau sudah melihatnya beberapa rey, dalam pagar itu. Cloud mulai tersendat bicara, sesekali ia berbalik menyeka air mat...

Hasbunallahu wa ni'mal wakil..

Hakikat dzikir hasbunallah wanikmal wakil nikmal Maula wanikman Nasir  Jika kita mengamalkan zikir ini, kegundahan hati yang tengah kita rasakan akan segera hilang. Jika dilaksanakan dengan Istiqomah penuh kesungguhan, setelah selesai salat fardhu usahakan membacanya minimal 100 kali. Jika kamu rajin salat malam, bacalah zikir tersebut disertai doa memohon pertolongan kepada Allah agar kegundahan hati bisa hilang secepatnya. Bacaan Ini mengandung arti "cukuplah Allah pelindung kami, dia sebaik-baik wakil yang kami dambakan Dan dia sebaik-baik penolong yang kami harapkan". Memiliki manfaat yang sangat dahsyat, tidak saja ketentraman hati serta luasnya Rizki tetapi juga bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta tawakal kita kepada Allah maka kita akan dianugerahi kesanggupan mengamati dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah Ketika konsisten membacanya, kualitas keimanan dan ketakwaan kita akan terus mengalami peningkatan. Tidak hanya percaya dalam lisan ...

Fatimah az-Zahra

Hal yang menjadikan hari "perpisahan"  Fatimah az-zahra adalah seorang yang menjadi ruh bagi Syair Rasulullah. Dalam menanggung kepedihan yang menindih begitu berat di atas punggung jiwanya, terlantunlah bait-bait puisi darinya. Di hari itu, terguncang seisi alam raya... Padam sudah cahaya mentari di siang hari... Seluruh peredaran waktu di masa awal dan akhir telah menghitam... Setelah Baginda Muhammad Al Mustofa wafat meninggalkan dunia  Hancur menjadi pasir yang menumpuk karena kedahsyatan goncangan kepedihan yang melanda Dan kini, biarlah seluruh penjuru kota di belahan Barat dan Timur menangis kepadanya  Biarlah seluruh penduduk kabilah mudar dan nyaman berduka nestapa  Namun apalah guna? Karena Perpisahan denganmu, tergambarlah sosok dirimu dalam linangan air mata Jerit sedih Fatimah hampir saja membuatnya lupa untuk menuturkan bagian bait dari puisinya Sedemikian musibah mengguyur diriku, Jika saja kepedihan...