Si hujan kecil
Semua cerita tentang waktu itu
Hujan kecil yang punya ceritanya sendiri
Wanginya telah tercium diatas gurun kering
Tenangnya kala dia datang bersama gemericik
Membawa serta si bahagia dalam lubuk lubuk jiwa
Pernah si hujan kecil bersedih
Melewati sekerumun jiwa berbalut luka
Tak ada yang menanti dan berbaik sangka
Kecewa dan marah mengerumuninya
Bukan si hujan kecil yang salah !
Merekalah yang melempar sampah sembunyi tangan
Kini ketika Sang Kuasa marah..
Ia melumat habis si Hijau Daun
Karena hijaunya sudah mengganggu pandangan
Hanya dalam waktu sekejap, api berkobar tak tahu arah
Diusirlah si hujan kecil, yang kala itu, bahkan belum sampai
Padahal si Hijau Daun sahabat setianya di negeri arang
Hujan kecil Malang, meratap iba ibu pertiwi
Yang terkekeh, karena asap jahat menggerogoti tubuhnya
Ibu Pertiwi tengah berbaring menanti harapan
Cinta dari Putra Bangsa, janji menjaga harta pusaka
Dalam susah hati dan linangan air mata
Hujan kecil terus melaju, hingga mencapai batasnya
Hati kecilnya mulai kembali sedia kala
Kala ada getar jiwa menanti hadirnya
Terang seperti cahaya matahari
Setia setiap dia datang
Menatap dengan senyuman
Hujan kecil mengerti, inilah perjalanan
Maka teruslah bergerak walau merangkak
Sampai kamu berhenti pada tempat istimewa
Yang menanti dan menghargai
menemui sibahagia dalam syukur ilahi
Alhamdulillah yang dinanti telah datang.
BalasHapusiya, alhamdulillah
HapusKeren puisinya
BalasHapus