Langsung ke konten utama

Tantangan Pekan 5

Si hujan kecil

Semua cerita tentang waktu itu
Hujan kecil yang punya ceritanya sendiri
Wanginya telah tercium diatas gurun kering
Tenangnya kala dia datang bersama gemericik
Membawa serta si bahagia dalam lubuk lubuk jiwa

Pernah si hujan kecil bersedih
Melewati sekerumun jiwa berbalut luka
Tak ada yang menanti dan berbaik sangka
Kecewa dan marah mengerumuninya
Bukan si hujan kecil yang salah !
Merekalah yang melempar sampah sembunyi tangan

Kini ketika Sang Kuasa marah..
Ia melumat habis si Hijau Daun
Karena hijaunya sudah mengganggu pandangan
Hanya dalam waktu sekejap, api berkobar tak tahu arah
Diusirlah si hujan kecil, yang kala itu, bahkan belum sampai
Padahal si Hijau Daun sahabat setianya di negeri arang

Hujan kecil Malang, meratap iba ibu pertiwi
Yang terkekeh, karena asap jahat menggerogoti tubuhnya
Ibu Pertiwi tengah berbaring menanti harapan
Cinta dari Putra Bangsa, janji menjaga harta pusaka
Dalam susah hati dan linangan air mata

Hujan kecil terus melaju, hingga mencapai batasnya
Hati kecilnya mulai kembali sedia kala
Kala ada getar jiwa menanti hadirnya
Terang seperti cahaya matahari
Setia setiap dia datang
Menatap dengan senyuman

Hujan kecil mengerti, inilah perjalanan
Maka teruslah bergerak walau merangkak
Sampai kamu berhenti pada tempat istimewa
Yang menanti dan menghargai
menemui sibahagia dalam syukur ilahi



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Season 8

CHAPTER 8 Air hangat ini kembali mengalir, bukan tangisan, bukan kelopak yang menjatuhkannya, "apa ini? aku terbangun dalam keheningan malam, ada handuk di atas kepala dan Bibi disampingku. ketika melihat sekeliling, "kemana ibu?" tanyaku. Bibi hanya mengulas senyuman wajah, "nona jangan khawatir, Istirahatlah dengan baik, demam Nona agak menurun sekarang, jangan terlalu banyak berpikir" ucap Bibi. "Sedih sekali tak kutemukan sosokmu ibu, aku hanya terdiam melihat bunga dalam vas itu telah layu sedikit demi sedikit, teriak batinku Yang Pilu mengalirkan air mata. Kenapa Ibu tak pernah datang? Ibu kembalilah aku merindukanmu. Kesunyian lain masih menyelimuti Cloud  yang sudah terdiam cukup lama, kali ini ia sedang berjuang keras, melawan kesedihan yang menerpanya agar tak terlihat oleh Rey. "Hari itu dia ukir banyak gambar, kau sudah melihatnya beberapa rey, dalam pagar itu. Cloud mulai tersendat bicara, sesekali ia berbalik menyeka air mat...

Hasbunallahu wa ni'mal wakil..

Hakikat dzikir hasbunallah wanikmal wakil nikmal Maula wanikman Nasir  Jika kita mengamalkan zikir ini, kegundahan hati yang tengah kita rasakan akan segera hilang. Jika dilaksanakan dengan Istiqomah penuh kesungguhan, setelah selesai salat fardhu usahakan membacanya minimal 100 kali. Jika kamu rajin salat malam, bacalah zikir tersebut disertai doa memohon pertolongan kepada Allah agar kegundahan hati bisa hilang secepatnya. Bacaan Ini mengandung arti "cukuplah Allah pelindung kami, dia sebaik-baik wakil yang kami dambakan Dan dia sebaik-baik penolong yang kami harapkan". Memiliki manfaat yang sangat dahsyat, tidak saja ketentraman hati serta luasnya Rizki tetapi juga bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta tawakal kita kepada Allah maka kita akan dianugerahi kesanggupan mengamati dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah Ketika konsisten membacanya, kualitas keimanan dan ketakwaan kita akan terus mengalami peningkatan. Tidak hanya percaya dalam lisan ...

Fatimah az-Zahra

Hal yang menjadikan hari "perpisahan"  Fatimah az-zahra adalah seorang yang menjadi ruh bagi Syair Rasulullah. Dalam menanggung kepedihan yang menindih begitu berat di atas punggung jiwanya, terlantunlah bait-bait puisi darinya. Di hari itu, terguncang seisi alam raya... Padam sudah cahaya mentari di siang hari... Seluruh peredaran waktu di masa awal dan akhir telah menghitam... Setelah Baginda Muhammad Al Mustofa wafat meninggalkan dunia  Hancur menjadi pasir yang menumpuk karena kedahsyatan goncangan kepedihan yang melanda Dan kini, biarlah seluruh penjuru kota di belahan Barat dan Timur menangis kepadanya  Biarlah seluruh penduduk kabilah mudar dan nyaman berduka nestapa  Namun apalah guna? Karena Perpisahan denganmu, tergambarlah sosok dirimu dalam linangan air mata Jerit sedih Fatimah hampir saja membuatnya lupa untuk menuturkan bagian bait dari puisinya Sedemikian musibah mengguyur diriku, Jika saja kepedihan...