Langsung ke konten utama

Puisi Puisi

KUMPULAN PUISI
(DAY 2)

Dikala Perang

kala itu aku bertemu
kala itu penapun menangis
kala itu selembar kertas pun melukai
kala itu melepasmu pergi
Cinta
kala itu kau berjanji kembali
kala itu aku tegar menanti
kala itu langit ikut bersaksi
kau kembali tak utuh lagi.

(DAY 3)

LUPA DIRI

KELOPAK MAWARKU LAYU
MERAH WARNANYA MEMBISU
HIJAU DAUNNYA MENGADU
PADA DURI YANG TERGUGU

TAMAN BUNGA YANG CANTIK
KARENA ENGKAU MENARIK
MAKHLUK JAHAT TERTARIK
MEMBAWA PADA KAMBOJA YANG SAKIT

TAK KAN LAYU KELOPAK BILA LESTARI
SEBAB MANUSIA YANG LUPA NURANI
MARI SEJENAK KITA KEMBALI
TANAMKAN NURANI DIDALAM DIRI

(Day 4)

JANJI SENJA

DIATAS PUNCAK BUMI KU UCAPKAN JANJI
KARENA DIRI MENEMUKAN SEBELAH HATI
KITA ADALAH SENJA DAN PAGI
AKULAH SENJA YANG DULU MENANTI PAGI

(Day 5)

TUTUP AMAL

TERTUNDUK HAMBA DIBULAN SYA'BAN
MERATAPI TAHUN KELAM YANG TERLEWATI
SETELAH INI RAMADHAN AKAN KEMBALI
MALAM SETENGAH MENUTUP AMAL PERGI
WAHAI SAUDARA LUASKAN HATI
BAKTIKAN DIRI PADA ILLAHI

(DAY 6)

Buntalan-Buntalan

Katanya...
Buntalan kata
Buntalan rasa
Buntalan tipu daya
Buntalan nafsu Manusia
Katanya...
kata rasa, tipu daya nafsu manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Season 8

CHAPTER 8 Air hangat ini kembali mengalir, bukan tangisan, bukan kelopak yang menjatuhkannya, "apa ini? aku terbangun dalam keheningan malam, ada handuk di atas kepala dan Bibi disampingku. ketika melihat sekeliling, "kemana ibu?" tanyaku. Bibi hanya mengulas senyuman wajah, "nona jangan khawatir, Istirahatlah dengan baik, demam Nona agak menurun sekarang, jangan terlalu banyak berpikir" ucap Bibi. "Sedih sekali tak kutemukan sosokmu ibu, aku hanya terdiam melihat bunga dalam vas itu telah layu sedikit demi sedikit, teriak batinku Yang Pilu mengalirkan air mata. Kenapa Ibu tak pernah datang? Ibu kembalilah aku merindukanmu. Kesunyian lain masih menyelimuti Cloud  yang sudah terdiam cukup lama, kali ini ia sedang berjuang keras, melawan kesedihan yang menerpanya agar tak terlihat oleh Rey. "Hari itu dia ukir banyak gambar, kau sudah melihatnya beberapa rey, dalam pagar itu. Cloud mulai tersendat bicara, sesekali ia berbalik menyeka air mat...

Hasbunallahu wa ni'mal wakil..

Hakikat dzikir hasbunallah wanikmal wakil nikmal Maula wanikman Nasir  Jika kita mengamalkan zikir ini, kegundahan hati yang tengah kita rasakan akan segera hilang. Jika dilaksanakan dengan Istiqomah penuh kesungguhan, setelah selesai salat fardhu usahakan membacanya minimal 100 kali. Jika kamu rajin salat malam, bacalah zikir tersebut disertai doa memohon pertolongan kepada Allah agar kegundahan hati bisa hilang secepatnya. Bacaan Ini mengandung arti "cukuplah Allah pelindung kami, dia sebaik-baik wakil yang kami dambakan Dan dia sebaik-baik penolong yang kami harapkan". Memiliki manfaat yang sangat dahsyat, tidak saja ketentraman hati serta luasnya Rizki tetapi juga bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta tawakal kita kepada Allah maka kita akan dianugerahi kesanggupan mengamati dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah Ketika konsisten membacanya, kualitas keimanan dan ketakwaan kita akan terus mengalami peningkatan. Tidak hanya percaya dalam lisan ...

Fatimah az-Zahra

Hal yang menjadikan hari "perpisahan"  Fatimah az-zahra adalah seorang yang menjadi ruh bagi Syair Rasulullah. Dalam menanggung kepedihan yang menindih begitu berat di atas punggung jiwanya, terlantunlah bait-bait puisi darinya. Di hari itu, terguncang seisi alam raya... Padam sudah cahaya mentari di siang hari... Seluruh peredaran waktu di masa awal dan akhir telah menghitam... Setelah Baginda Muhammad Al Mustofa wafat meninggalkan dunia  Hancur menjadi pasir yang menumpuk karena kedahsyatan goncangan kepedihan yang melanda Dan kini, biarlah seluruh penjuru kota di belahan Barat dan Timur menangis kepadanya  Biarlah seluruh penduduk kabilah mudar dan nyaman berduka nestapa  Namun apalah guna? Karena Perpisahan denganmu, tergambarlah sosok dirimu dalam linangan air mata Jerit sedih Fatimah hampir saja membuatnya lupa untuk menuturkan bagian bait dari puisinya Sedemikian musibah mengguyur diriku, Jika saja kepedihan...