Langsung ke konten utama
 PROLOG...

    Nusantara kaya akan kehidupan hijaunya, menyayangi alam yang memiliki ruh, menjadi kewajiban kita sebagai pemelihara, untuk menjaga alam tetap Lestari. Suku hilir mengukir sejarah bersama alam, tak mau sejuknya rumah mereka tergadai, hanya karena keindahan harta Semata, sampai saat ini mereka masih tetap menjaga persahabatan antara alam dan manusia.

        Di kota lain, tepatnya di sebuah pondok kecil di pedalaman negara Jerman, terlihat seorang gadis kecil berambut hitam, berlarian dihalaman rumput luas rumahnya, yang dikelilingi pohon-pohon besar tersembunyi. Pondok kecil milik keluarga, ayahnya yang merupakan peneliti satwa, memenuhi pondok itu dengan para binatang. 

       Usianya sekitar 10 tahun, bermata biru cerah seperti langit, tinggi perawakannya dibanding gadis seusia itu, kulitnya yang putih dan bibirnya yang merah. Dia sedang berlari mengejar sapi yang lepas dari kandang, dari jauh suara perempuan memanggilnya, sambil tersenyum dibalik rumah.

"cyle jangan dikejar terus, gunakan tali  untuk menangkapnya, kamu menakutinya  sayang".

    Gadis cilik itu hanya tersenyum dan tertawa riang, kemudian menuruti perkataan ibunya.

"tangkap talinya" ibu melemparkan seikat tali tambang.

"iya bu, aku tidak akan membiarkan sapi ini lepas, akan ku tangkap kembali dengan cepat" tersenyum bangga.

   Gadis cilik itu bernama Cyle edelweis, ibunya berkulit sawo matang dan ayahnya bermata biru. Anak itu memiliki ciri khas kedua orang tuanya, rambut hitam dan mata biru, kulit putih dengan bibir merah merekah, simbol keberanian seperti ibunya.

    Sudah lama sekali, gadis kecil itu rindu bertemu kakeknya, ketika dia kecil, cerita  spesial sebelum tidur dari ayah dan ibu adalah kisah kakek dan suku asal ibunya. Kehidupan suku hilir yang berbeda dengan ayahnya yang tinggal dikota.

  Kisah bagaimana pertemuan orangtuanya,  kisah betapa indah desa ibunya, dan Hal itulah, yang membuat Cyle sangat penasaran, ingin bertemu kakeknya  yang bijaksana, ketua sepuh suku hilir yang dihormati penduduknya.

   Seminggu yang lalu, sebuah surat diantar ke pedalaman desa, di bawah kaki Gunung Gede. Tidak sembarang orang bisa masuk ke suku itu, si pengantar surat sendiri teman baik Putri kepala suku yang tinggal di luar desa. 

     Dia Menjadi penghubung pembicaraan dan  kabar dari putri kepala suku yang tinggal di Jerman kepada kepala sepuh suku hilir. Walaupun sudah lama Terusir dia dari desa, komunikasi tetap berjalan baik antara ayah dan anak 

Komentar

  1. Sudah bagus sih kk, sebaik Ada paragraph gitu atau fotoπŸ˜„ agar engga ngebosani pas dibaca

    BalasHapus
  2. Bedakan mana dialog mana narasi, ya. Saya bingung, ada tanda petik tapi nggak dimaksud dialog sepertinya di situ. Kalau dimaksud dialog, maka lebih baio dibedakan paragrafnya. Buat di paragraf baru. Kemudian teknis penulisan dialog juga harus diperhatikan. Bisa cek di PUEBI, ya. Semangat terus nulisnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ka,masukannya,saya coba perbaiki lagi. πŸ™πŸ˜ƒ

      Hapus
  3. Ditunggu kisah selanjutnya 😁❤❤

    BalasHapus
  4. Paragrafnya rengket2 sekali, bisa diberi jarak biar lebih enak dan nyaman dibacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, makasih masukannya. perlu banyak belajar saya ditulisan nya mba, sudah rapi2 sekali.. 😊

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Season 8

CHAPTER 8 Air hangat ini kembali mengalir, bukan tangisan, bukan kelopak yang menjatuhkannya, "apa ini? aku terbangun dalam keheningan malam, ada handuk di atas kepala dan Bibi disampingku. ketika melihat sekeliling, "kemana ibu?" tanyaku. Bibi hanya mengulas senyuman wajah, "nona jangan khawatir, Istirahatlah dengan baik, demam Nona agak menurun sekarang, jangan terlalu banyak berpikir" ucap Bibi. "Sedih sekali tak kutemukan sosokmu ibu, aku hanya terdiam melihat bunga dalam vas itu telah layu sedikit demi sedikit, teriak batinku Yang Pilu mengalirkan air mata. Kenapa Ibu tak pernah datang? Ibu kembalilah aku merindukanmu. Kesunyian lain masih menyelimuti Cloud  yang sudah terdiam cukup lama, kali ini ia sedang berjuang keras, melawan kesedihan yang menerpanya agar tak terlihat oleh Rey. "Hari itu dia ukir banyak gambar, kau sudah melihatnya beberapa rey, dalam pagar itu. Cloud mulai tersendat bicara, sesekali ia berbalik menyeka air mat...

Hasbunallahu wa ni'mal wakil..

Hakikat dzikir hasbunallah wanikmal wakil nikmal Maula wanikman Nasir  Jika kita mengamalkan zikir ini, kegundahan hati yang tengah kita rasakan akan segera hilang. Jika dilaksanakan dengan Istiqomah penuh kesungguhan, setelah selesai salat fardhu usahakan membacanya minimal 100 kali. Jika kamu rajin salat malam, bacalah zikir tersebut disertai doa memohon pertolongan kepada Allah agar kegundahan hati bisa hilang secepatnya. Bacaan Ini mengandung arti "cukuplah Allah pelindung kami, dia sebaik-baik wakil yang kami dambakan Dan dia sebaik-baik penolong yang kami harapkan". Memiliki manfaat yang sangat dahsyat, tidak saja ketentraman hati serta luasnya Rizki tetapi juga bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta tawakal kita kepada Allah maka kita akan dianugerahi kesanggupan mengamati dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah Ketika konsisten membacanya, kualitas keimanan dan ketakwaan kita akan terus mengalami peningkatan. Tidak hanya percaya dalam lisan ...

Fatimah az-Zahra

Hal yang menjadikan hari "perpisahan"  Fatimah az-zahra adalah seorang yang menjadi ruh bagi Syair Rasulullah. Dalam menanggung kepedihan yang menindih begitu berat di atas punggung jiwanya, terlantunlah bait-bait puisi darinya. Di hari itu, terguncang seisi alam raya... Padam sudah cahaya mentari di siang hari... Seluruh peredaran waktu di masa awal dan akhir telah menghitam... Setelah Baginda Muhammad Al Mustofa wafat meninggalkan dunia  Hancur menjadi pasir yang menumpuk karena kedahsyatan goncangan kepedihan yang melanda Dan kini, biarlah seluruh penjuru kota di belahan Barat dan Timur menangis kepadanya  Biarlah seluruh penduduk kabilah mudar dan nyaman berduka nestapa  Namun apalah guna? Karena Perpisahan denganmu, tergambarlah sosok dirimu dalam linangan air mata Jerit sedih Fatimah hampir saja membuatnya lupa untuk menuturkan bagian bait dari puisinya Sedemikian musibah mengguyur diriku, Jika saja kepedihan...